Antonio Jose Bolivar fokus membaca buku-buku berisi kisah cinta di dalam rumahnya yang terletak di kawasan hutan Amazon di wilayah Ekuador. Ia fokus membaca kala hujan lebat menghantam wilayah itu. Antonio adalah orang tua yang menjadi tokoh utama dalam novel Luis Sepúlveda berjudul “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta”. Itu diterjemahkan Ronny Agustinus dari bahasa Spanyol dan diterbitkan Marjin Kiri.
Antonio Jose Bolivar memang lebih dari sekadar orang tua yang membaca kisah cinta. Luis Sepúlveda lewat tokohnya itu, membahas tentang bagaimana si pak tua menghadapi masalah pembangunan dan isu lingkungan yang menyertainya. Tapi, khusus untuk catatan ini, saya hanya ingin coba membayangkan betapa damainya hidup membaca buku di dekat jendela ketika hujan turun. Pohon-pohon di sekitar rumah yang memantulkan butiran hujan mungkin akan membuat suasana menjadi lebih nyaman. Jauh lebih nyaman dibanding mendengar suara hujan, angin, air mengalir, atau suara serangga di malam hari lewat aplikasi pemutar musik.
Saya senang baca buku, artikel, atau cerita pendek di koran-koran yang entah cetak atau lewat HP. Saya tidak tahu persis bagaimana saya tenggelam dalam kesenangan ini. Saya kadang merasa ini adalah pelarian dari sepi tapi pada akhirnya terjebak di dalamnya. Pelarian yang ternyata banyak manfaatnya, setidaknya untuk tahu berbagai hal walaupun saya yakin tidak tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang ada di dunia ini.
Seingat saya, cerita rakyat tentang raksasa yang mencuri bayi dan dilarikan ke hutan larangan adalah buku yang saya baca berulang-ulang saat masih kelas 2 SD. Buku itu menemani saya selama terkena cacar air dan tidak bisa ke mana-mana. Memang ada beberapa fabel lain yang saya baca di majalah bekas yang dibawa oleh om saya dari Makassar ke kampung saya yang jaraknya sekitar 130 kilometer dari ibukota Sulsel itu—kadang dia memang sengaja bawa beberapa majalah anak seperti Bobo. Buku cerita rakyat atau fabel kalau tidak salah juga saya dapatkan dari tante atau om yang memang guru SD. Sayangnya, karena keinginan untuk mengoleksi dan merawat buku yang menemani saya selama ini baru muncul saat kuliah, berbagai buku cerita itu mungkin sudah hancur dimakan rayap atau hancur tak terawat.
Seiring waktu, buku dan membaca memang sepertinya tidak bisa lepas dari saya. Sejak SMP hingga SMA saya tidak punya banyak teman bermain sehari-hari. Membaca dan bengong menjadi kegiatan yang paling sering saya lakukan. Dari mana bukunya? Dari om yang kuliah dan juga punya banyak koleksi buku di kamarnya. Dari situlah saya kenal buku dengan tema pendidikan seperti tulisan pak Roem Topatimasang dan buku-buku lain dengan isu yang sama. Seingat saya novel dan cerpen sangat sedikit di rak lemarinya. Yang paling saya ingat adalah novel Pramoedya berjudul Jalan Raya Pos. Semuanya bertema sosial, politik, dan ekonomi. Mentok buku sejarah. Dari sekian yang saya baca saat SMP dan SMA, saya harus baca ulang saat kuliah untuk benar-benar mencoba memahami isinya.
Sampai sekarang, saya sepertinya memang tidak bisa jauh dari membaca, menulis, dan memandangi judul-judul buku terbitan baru. Ditambah lagi karena memang sudah jadi kerjaan—walau tulisan saya mungkin jauh dari kata baik. Saya kadang membenci tulisan saya sendiri entah artikel singkat maupun tulisan “serius” lain tentang hukum pidana yang pernah saya tulis atau ikut menjadi penulis. Mengejek tulisan sendiri pada akhirnya membuat saya terus mencoba untuk bisa membuat tulisan yang lebih baik. Tapi apa indikatornya? Entahla.
Saya harus akui, saya lebih banyak sendirian dan memang tidak begitu pandai basa-basi agar obrolan bisa terus berlanjut dengan orang lain. Berdamai dengan kondisi saat ini adalah pilihan terbaik sambil menunggu keajaiban yang bisa saja terjadi di hari esok.
Sambil menunggu yang ajaib, saya kira tidak ada salahnya merencanakan rumah untuk hari esok. Saya tahu betul, hidup di negara ini banyak masalahnya. Hidup di pusat kota, macam Jakarta ini, krisis perumahan adalah salah satunya. Harga rumah di Jakarta sudah miliaran rupiah, bisa kredit tapi dengan gaji minimum tampaknya tak akan lunas hingga saya menua dan mampus. Kontrakan yang lebih luas dan akses fasilitas publik memadai juga sama mahalnya. Kos? Makin lama harganya makin naik hingga setengah gaji minimum 2025.
Mencari tempat lain yang jauh dari pusat kota tampaknya memang jauh lebih baik. Saya sendiri tidak pernah membayangkan akan menua dan mampus di Jakarta. Sendirian. Rumah yang saya bayangkan pun tidak akan berdiri di kota ini. Toh, dari mana uangnya?
Walau entah kapan itu bisa terjadi dan di mana akan berdiri, punya rumah dengan satu ruang perpustakaan dan tempat membaca yang tenang pun tak pernah berhenti saya impikan. Tentu saya tidak sedang memikirkan sebuah rumah yang dibangun dari kumpulan buku. Saya bukan pembaca atau pecinta buku seperti yang diceritakan Carlos Maria Dominguez dalam novelnya berjudul Rumah Kertas—diterjemahkan Ronny Agustinus dan terbit di Marjin Kiri.
Tiga tahun belakangan, saya memang senang coba membeli majalah lawas tapi tak banyak. Itu bukan untuk jadi dinding, tapi sekadar tertarik dengan beberapa isinya. Majalah Tempo edisi 1980 sampai 1990an misalnya, ada beberapa liputan menurut saya menarik. Waktu itu, pasal santet di KUHP baru sedang ramai dibahas. Kebetulan saya menemukan beberapa liputan soal santet di arsip Majalah Tempo. Akses Tempo Digital memang bisa tapi tak semenarik membaca liputannya di majalah cetak. Ditambah lagi penyajian arsip liputan di Tempo juga ditampilkan sederhana tanpa ilustrasi layaknya liputan terbaru mereka. Majalah Bobo dan Donal Bebek? Saya tertarik karena waktu kecil dua majalah itu susah diakses di tempat saya. Majalah toh saya dapat bekas dan coba baca saat itu. Jadi, tak ada salahnya coba baca lebih dalam tulisan-tulisan di majalah bekas yang bisa saya dapatkan di Blok M.
Kembali ke soal rencana bikin rumah. Saya bukan arsitek yang bisa mendesain sedemikian rupa. Tapi setidaknya saya punya bayangan tentang ruang-ruang apa saja yang perlu ada. Sebelum ke situ, saya berencana membangun rumah di daerah pegunungan, setidaknya ada pemandangan yang lebih baik jika melihat ke arah dataran yang lebih rendah. Tanah jelas belum ada. Tapi mungkin nanti akan ada. Anggap saja akan ada tanah setengah hektar yang nantinya saya sulap jadi rumah sekaligus kebun di sekelilingnya. Tentu beberapa pohon agar tetap sejuk. Semoga saja nanti masih ada tempat yang seperti itu di tengah masalah buka lahan dan panas yang makin menjadi-jadi.
Lalu untuk rumahnya, saya akan bikin sesederhana mungkin. Selain ruang tamu sederhana, dapur, dan juga kamar untuk tidur, ruang untuk perpustakaan kecil jelas harus ada. Dindingnya dikelilingi rak buku, sementara meja baca yang sekaligus tempat kerja cocok pas di depan jendela. Karena rumahnya di sekitar gunung, jendela perpustakaan menghadap ke dataran lebih rendah tentu akan jadi lebih menarik. Saya masih membayangkan satu tempat di kampung saya, di mana rumah di dataran tinggi punya kelebihan karena bisa mendapatkan pemandangan dataran rendah dan laut sekaligus. Gambaran lengkapnya mungkin nanti. Tapi pembangunan ruangannya seperti itu.
Buku-bukunya memang saya coba kumpulkan dari sekarang. Belum banyak, totalnya sekitar 500 buku dan beberapa judulnya sama. Entah nanti makin menumpuk, yang pasti sekarang sudah cukup meresahkan. Setiap kali pindah kos atau kontrakan, mengemas buku ke dalam boks jadi paling lama. Pakaian sehari-hari justru lebih mudah. Sempat terpikir untuk mengemas dan membuat katalog, sialnya sampai sekarang belum sempat karena sibuk dan memang ada rasa malas.
Tapi saya biarkan semua itu berlangsung, mungkin nanti perlahan akan tertata, setidaknya kumpulan buku. Urusan rumah yang saya bilang, mungkin nanti juga akan semakin jelas. Yang pasti, saya sama sekali tidak ada niat untuk membangun itu sendiri. Walaupun menarik membayangkan Antonio Jose Bolivar asyik membaca buku kala hujan di rumahnya, tapi sendirian sepertinya tidak menarik. Saya juga tidak berpikir untuk berakhir seperti cerita dalam novel Rumah Kertas.