Skip to content

Toko Buku Kobam dan Memoar Misbach Yusa Biran

Tidak ada hubungan langsung antara isi buku dengan toko buku sekaligus café di Menteng itu. Ya, walaupun memang memoar Misbach Yusa Biran diterbitkan oleh Komunitas Bambu dan juga dijual di tokonya. Saya bikin judul ini hanya untuk merangkum aktivitas saya siang hari di akhir pekan.

Siang itu, Minggu, 20 Juli 2025, saya kesampaian juga berkunjung langsung ke Toko Buku Komunitas Bambu di Menteng. Bukan yang di Depok. Letaknya tak jauh dari Stasiun Sudirman, dan jika jalan yang di ujung itu tidak tutup, juga dekat dengan Halte Flyover Kuningan (dulu bernama Latuharhari). Rencana yang lama dan akhirnya terwujud ini, sekaligus membikin saya membeli salah satu buku yang masuk dalam daftar bacaan sejak tujuh tahun lalu: “Kenang-Kenangan Orang Bandel” karya Misbach Yusa Biran.

Sejak akan berangkat ke toko buku Kobam, saya sudah mengunci niat untuk beli langsung buku memoar itu. Saya tahu nama Misbach Yusa Biran dari dua kumpulan cerita pendeknya: “Keajaiban di Pasar Senen” dan “Oh, film”. Dua buku ini berisi cerita berlatar Pasar Senen sekitar 1950an dengan para “seniman” di sana serta potret perfilman di era itu. Cara dia menuliskan berbagai cerita dalam buku itu, yang isinya banyak bikin ketawa, membuat saya penasaran dengan tulisannya yang lain yaitu memoar tentang dirinya dan dia tulis sendiri.

Misbach Yusa Biran juga punya buku lain yaitu “Sejarah Film 1900–1950” yang saya belum baca dan memang ingin fokus ke cerpen atau novel. Saya bukan tidak suka nonton film, hanya saja membaca bagi saya lebih menarik. Hingga sekarang, saya baru sekali nonton ke bioskop. Itu juga karena memenuhi undangan seorang kenalan yang filmnya tayang di Eagle Awards 2017. Jadilah buku Sejarah film itu saya jadikan daftar bacaan lumayan bawah.

Tanpa memeriksa ketersediaan stok terlebih dahulu, saya langsung berangkat ke Toko Buku Kobam yang baru buka di 2025. Awalnya saya ingin ke tokonya yang di Depok. Tapi, selain jaraknya lebih jauh, toko di Depok juga tutup hari Minggu. Untungnya masih ada, memoar itu tergeletak di atas meja, di tengah-tengah buku seputar sejarah lainnya. Bukunya cetakan lama dan masih pakai kertas HVS, lebih berat dibanding buku terbitan Kobam yang dicetak dengan bookpaper.

Karena konsepnya toko buku dan café, saya sekalian pesan teh poci. Benar-benar disajikan pakai poci. Saya buka bungkusan buku lalu mulai membaca dari pengantarnya. Ada tiga pengantar, dua dari penulis dan satu lagi dari Ajip Rosidi. Semuanya tertuang tidak terlalu panjang tapi cukup menjelaskan isi buku dan tujuan awal penulisannya.

Pengantar pertama dari penulis. Dari dua paragraf pertama saya sudah senyum sendiri di kursi depan Toko Buku menghadap jalan. Misbach Yusa Biran menulis memoar yang terkesan mengolok diri sendiri. Ini bikin lucu. Tapi, dari segi isi, yang saya baca sampai bab 2 di café itu, justru menarik karena berkaitan dengan sejarah yang ditulis berdasarkan pengalaman hidup penulisnya.

Selain tertarik dengan isinya, saya juga bisa betah duduk di teras toko karena suasananya yang nyaman. Tidak bising dengan kendaraan dan juga tidak terlalu gerah karena udara panas. Baca buku siang hari sambil merokok di teras dan juga dengan teh poci, jadi hiburan menarik siang itu bagi saya. Biasanya saya lebih suka membaca di kamar atau di KRL maupun Trans Jakarta. Kadang juga di taman. Ternyata membaca sendiri di teras sama menyenangkannya dengan membaca di taman.

Dari dua bab pertama yang bercerita keluarga dan pengalaman masa kecil sekaligus Sejarah Indonesia yang melingkupinya, saya tidak heran kenapa buku itu terbit di Kobam. Penerbit ini memang spesialis sejarah. Banyak buku sejarah yang saya beli di Kobam. Termasuk “Hiroshima”, liputan panjang John Hersey tentang enam korban Bom Atom di Hiroshima, Jepang. Buku sejarah lain yang tak kalah menarik dan diterbitkan Kobam adalah “Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imperialisme” yang ditulis oleh Jack Turner.

Di Minggu, toko itu tutup mungkin jam lima sore tapi mulai buka setengah sembilan pagi. Senin tutup. Di hari lain, tokonya buka jam 11 menjelang siang. Setidaknya begitu informasi yang ada di Google Maps. Hari itu, saya pulang jam empat sore, satu jam sebelum toko tutup. Berjalan ke arah stasiun Sudirman lewat Jalan Purwodadi lalu belok kiri menuju Halte Flyover Kuningan.